Belajar Menulis Dari Pakar/Maestro I Bersama Djokolelono. Dari Science Fiction Hingga Setan Van Oyot.

Dimuat Satupena.id, Kamis, 11 April 2019

Oleh: Artie Ahmad

Anak laki-laki berusia 9 tahun bernama Prim masuk ke dalam laboratorium rahasia yang berada di salah satu universitas di Bandung. Alat yang dia sangka untuk permainan, ternyata benda hasil penelitian. Lonjakan listrik yang kuat mengubahnya menjadi anak yang cerdas dalam berbahasa Inggris dan mampu berpindah tempat dalam waktu yang cepat meski jarak kedua tempat sangat jauh. Cerita ini berada di buku berjudul ‘Getaran‘, yang ditulis Djokolelono di tahun 1972. Waktu di mana penulis-penulis Indonesia belum ada yang menulis cerita yang mengangkat tentang fiksi ilmiah seperti yang terkandung di dalam novel ‘Getaran‘.

Novel Fiksi Ilmiah milik Djokolelono berjudul Getaran

Fiksi ilmiah sendiri menurut Isaac Asimov adalah suatu karya tulis fiksi menceritakan tentang sesuatu yang mungkin terjadi, sedangkan kategori fantasi adalah cerita tanpa realitas yang tidak mungkin terjadi.

Dalam workshop yang dilaksanakan di nDalem Natan pada hari Minggu, 7 April 2019 lalu, Djokolelono banyak memberikan gambaran-gambaran tentang apa itu fiksi ilmiah melalui beberapa film. Film pertama yang diputar berjudul ‘1984‘, sebuah film distopian fiksi ilmiah yang diangkat dari novel milik George Orwell yang berjudul sama. Film ‘1984‘ ini menggambarkan sebuah negara rekaan bernama Oceania, di negeri ini digambarkan ada sebuah partai yang menekan masyarakat. Di film itu, seolah George Orwell menyindir suatu negara tertentu namun melahirkan cerita dengan membentuk sebuah negara baru yang tak ada di dunia nyata. Selain film ini, Djokolelono juga memberikan beberapa contoh lain seperti film ‘Animal Farm‘ yang diangkat dari buku yang berjudul sama karangan George Orwell.

Untuk memperjelas tentang apa itu fiksi ilmiah, Djokolelono juga memberikan gambaran melalui film ‘Star Wars‘. Bagaimana untuk menjadi anggota atau kesatria Jedi membutuhkan beberapa tahapan. Poin-poin untuk mencapai titik tertinggi untuk menjadi Jedi termasuk dalam kategori fiksi ilmiah. Ada pun poin-poin yang dijadikan contoh di lokakarya kemarin Minggu antara lain: Tes Darah, Lokakarya, The Force, Light Saber, Ujian Padawan, Magang, Trials of Knighthood, Wisuda, Studi Lanjut dan Spesialiasi.

Acara workshop sedang berlangsung

Acara workshop yang dihadiri peserta dari beberapa kota itu berlangsung menyenangkan. Contoh-contoh yang diberikan juga jelas. Menurut Djokolelono, fiksi ilmiah dan fantasi teramat berbeda. Fiksi ilmiah suatu karangan yang mungkin saja bisa terwujud di masa yang akan datang, biasanya untuk fiksi ilmiah berhubungan dengan teknologi, dan didasari oleh pengamatan dan penelitian ilmiah, mengungkapkan hubungan manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam sekitar.

Sedangkan fiksi fantasi sendiri biasanya menceritakan mengenai hal supranatural atau magis.

Para peserta yang hadir sangat antusias mengenai materi fiksi ilmiah ini. Pertanyaan-pertanyaan pun mengalir. Pertama, pertanyaan dilontarkan oleh Ketua Umum Satupena, Dr. Nasir Tamara. Beliau bertanya, mengapa Djokolelono lebih memilih menulis fiksi ilmiah.

“Tahun 1964-1968 saya menjadi mahasiswa astronomi di ITB. Masa kuliah itu saya tinggal di Bosscha, Lembang. Lantaran terletak di atas bukit, keadaan cukup sunyi dan saya jadi sering melamun, kemudian saya mencoba menuliskan pikiran saya saat melamun itu. Saya sangat gemar membaca cerita Mandrake yang dimuat di Malangpost. Saya sangat senang memasukkan suasana Lembang dalam karya-karya saya. Nah, dan ketika karya saya itu dihargai dengan honor, maka saya kecanduan untuk membuatnya lagi,” papar Djokolelono menjawab pertanyaan Dr. Nasir Tamara.

Pertanyaan lain muncul, seperti yang ditanyakan Olen Saddha, peserta dari Solo, “Bagaimana jika menulis fiksi yang berseberangan dari aturan? Kemudian begini, beberapa waktu yang lalu saya bermimpi. Mimpi itu seolah nyata, lekat sekali di kepala saya. Di dalam mimpi itu, saya seolah melihat mutan-mutan. Selepas bermimpi itu, saya mulai mencari referensi tentang hal serupa. Saya menemukan film yang tokoh utamanya Illya Ivanov, seorang ilmuwan di era Stalin. Dia berencana membuat inseminasi buatan yang melibatkan manusia dan hewan. Namun sebelum inseminasi buatan itu bisa terwujud, dia ditangkap dan diasingkan. Bagaimanakah caranya untuk membuat cerita semacam itu agar terlihat nyata?”

Mendengar pertanyaan itu, Djokolelono pun segera menjawab. 

“Sebelum menuliskannya, seharusnya Anda yakin dulu bahwa hal itu bisa terjadi, meski belum ada hasil ilmiah atas inseminasi buatan yang melibatkan manusia dan hewan. Atau mungkin Anda bisa mengambil sudut cerita yang agak lain, semisal menggunakan alur mundur, di mana-mana anak-anak hasil inseminasi buatan menggunakan sel hewan dan manusia itu lahir dan hidup di tengah-tengah masyarakat. 

Untuk menyelesaikan cerita pun yang diperlukan adalah Anda jangan takut untuk menulis. Mintalah orang lain membaca karya Anda dan lihatlah reaksi mereka atas tulisan Anda.” 

Pak Djoko sedang menjawab pertanyaan peserta.

Pertanyaan-pertanyaan dari peserta lain pun masih bermunculan. Ada yang menanyakan bagaimana menyelesaikan menulis untuk pemula dan bagaimana mencari ide yang sering buntu ketika keinginan menulis itu muncul. Selain memberikan paparan workshop dan menjawab pertanyaan peserta, Djokolelono juga memberikan beberapa soal mengenai kepenulisan fiksi ilmiah yang harus dikerjakan para peserta.

Saat memberikan paparan di depan para peserta yang kebanyakan kaum milenial.

Setelah acara workshop selesai, acara dilanjutkan dengan launching novel terbaru Djokolelono yang diterbitkan oleh Penerbit Marjin Kiri berjudul ‘Setan Van Oyot‘. Untuk bincang novel ini, pembicaranya selain penulis novelnya, juga ada Ronny Agustinus selaku editor dan pemilik Penerbit Marjin Kiri serta Dr. Nasir Tamara yang memposisikan sebagai pembaca novel ‘Setan Van Oyot‘.

Dari pengakuan penulis novelnya, sebelum acara diskusi dimulai, ada penjelasan bahwa judul dari novel ini adalah sebuah anagram yang terlahir selepas penulis kerap melihat seorang politisi yang sangat kerap muncul di televisi. Uniknya, hanya dari nama yang sering didengar dan dilihat di televisi, terlahirlah judul novel ‘Setan Van Oyot‘. Sebuah novel yang awal kepenulisannya, selalu diceritakan secara bersambung di laman facebook Djokolelono.

Kover novel Setan Van Oyot karya Djokolelono

Pembicara pertama untuk launching novel ‘Setan Van Oyot‘, Dr. Nasir Tamara memaparkan bahwa ‘Setan Van Oyot‘ ditulis Djokolelono di usia yang ke-75 tahun sangat patut diapresiasi. Di usia beliau, menulis novel 300 halaman sama dengan lari marathon menempuh jarak 40 km.

Dr. Nasir Tamara, Ketua Umum Satupena sedang memaparkan novel ‘Setan Van Oyot’

Oyot sendiri dalam bahasa Jawa berarti akar. Karena dianggap sakral, pohon beringin dipanggil ‘kyai’ oleh orang-orang Jawa. Namun, untuk orang Belanda waktu itu, pohon beringin yang berada di dalam novel demikian sulit untuk ditebang, maka mereka menyebut pohon beringin itu dengan sebutan ‘Setan Van Oyot‘. Hal ini sesungguhnya bukan lantaran adanya unsur mistik, melainkan kejadian-kejadin yang membentuk psikologis orang-orang menjadi ragu dan takut kepada pohon beringin tersebut.

“Bahasa dalam menyusun novel ini sangat mengalir dan kuat. Bahasa Indonesia yang enak dan cara bertutur yang baik menjadikan novel ini demikian menarik. Buku ini sukses karena kerja sama penulis dan penyuntingnya.” Ucap Dr. Nasir Tamara di tengah paparannya.

Dr. Nasir Tamara pun menyebutkan beberapa tokoh utama yang dirasa sangat berpengaruh di novel ‘Setan Van Oyot‘, seperti tokoh Daan van Dijk, Zus Kesi, Thijs van Dijk, dan Ing Nio atau yang akrab dipanggil dengan sebutan Nona Tatit. Kisah dari tokoh-tokoh tersebut sangatlah menarik. Novel itu menjadi demikian hidupnya, dengan alur cerita dan penokohan yang sangat menarik dan mengikat pembaca untuk tak berhenti membacanya.

Lebih lanjut, Dr. Nasir Tamara mengatakan, “Cerita yang ditulis Djokolelono ini sama bagusnya dengan ‘Sajjah-Adinda‘ karya Multatuli. Ada pula yang mewakili bupati Lebak yang korup kala itu di buku ini yakni Ndoro Sinder. Yang menarik dari tokoh Ndoro Sinder, setelah menikah berat badan Ndoro Sinder mencapai dua kuintal. Lantaran kelebihan berat badan inilah, ia meninggal. Hal ini sangat menarik, bahwa kematian untuk dirinya bukan lantaran dibunuh, melainkan lantaran obesitas.”

Namun, meski buku ‘Setan Van Oyot‘ sangat menarik, tak urung ada sedikit kritik yang dilontarkan Dr. Nasir Tamara. 

“Sayangnya, Mas Djoko kurang mengeksplor mengenai peristiwa gerakan pro kemerdekaan di dalam novel ini. Padahal di tahun 1917, Soekarno sudah mengeluarkan pidato pembelaan Indonesia Menggugat, dan terjadi pemogokan kerja di berbagai perkebunan milik Belanda. Apabila hal ini lebih dieksplor, tentu novel ini akan jauh lebih menarik.”

Namun meski ada sedikit kritik untuk novel tersebut, Dr. Nasir Tamara sangat mengapresiasi karya terbaru dari Djokolelono, terlebih ketika mengingat bahwa ini adalah novel dewasa pertama yang ditulis Djokolelono setelah selama ini menulis buku-buku anak.

Bedah buku Setan Van Oyot sesi pembicara Dr. Nasir Tamara

Ronny Agustinus, selaku penyunting dan pemilik Penerbit Marjin Kiri mengatakan bahwa melalui novel ‘Setan Van Oyot‘ ini, semua yang dirasa mistik sesungguhnya memiliki penjelasan secara logis. Ia mengaku telah membaca karya-karya Djokolelono sejak lama. Meski kebanyakan yang dia baca buku-buku terjemahan Djokolelono dan bagus-bagus, namun ia tidak menampik bahwa ada kalanya ia menkrtitik buku-buku terjemahan tersebut. Salah satu yang diterjemahkan adalah karya John Steinbeck. 

“Ketika kami terima, naskah novel ‘Setan Van Oyot‘ sudah demikian matang. Namun tetap ada tambahan-tambahan agar buku itu lebih apik dan logis. Meski sebagai penyuntingnya, saya merasa ada bagian-bagian yang kurang, antara lain kurang jelasnya penjelasan waktu yang ada di sana. Hal itu menyebabkan pembaca harus berpikir untuk mengerti bahwa alur cerita telah berlalu dua bulan atau beberapa bulan kemudian.”

Ronny Agustinus sedang memaparkan Setan Van Oyot.

Tak hanya mengulas menyoal novel ‘Setan Van Oyot‘. Ronny juga membantu menjawab pertanyaan salah satu peserta menyoal ketakutan penulis pemula saat menulis. 

“Untuk penulis pemula, apabila menulis memikirkan diri menjadi editor pasti akan merasakan ketakutan. Saran saya tulis dulu sampai selesai, baru meminta tolong kawan untuk membaca dan menilai karya tersebut, namun apabila itu malah menimbulkan rasa takut dan khawatir akan merusak kepercayaan diri, maka tak perlu dilakukan. Pendalaman materi ‘what if‘ atau ‘bagaimana kalau’ sangat berguna untuk mengembangkan karya tulis.”

Di tengah peserta workshop dan launching novel.

Dengan bercanda, Djokolelono selaku penulis novel ‘Setan Van Oyot‘ mengatakan bahwa ia baru tahu novel terbarunya itu bagus selepas mendengarkan penjelasan dari Dr. Nasir Tamara. 

Pak Djokolelono, membacakan nukilan dari Setan Van Oyot.

Menurut Djokolelono, novel ‘Setan Van Oyot‘ adalah karya fiksi ilmiah yang dikembangkan atas pertanyaan ‘bagaimana jadinya kalau birokrat korupsi di jaman kolonial di kota kecil Jawa Timur?’ Jawabannya pastinya melibatkan komunitas di kota itu, seperti bagaimana hubungan antar manusianya, bagaimana budayanya.

“Pemberian judul ‘Setan Van Oyot‘ dimaksudkan untuk memberi kesan bahwa: setan itu menakutkan, kata van identik dengan zaman penjajahan Belanda, serta oyot merupakan penampakan yang menonjol dari pohon beringin,” kata Djokolelono sembari memperlihatkan beberapa materi menyoal novel ‘Setan Van Oyot‘ di layar.

Djokolelono pun mengakui saat menulis novel ini, ia melanggar beberapa aturan. Seperti judul dibuat di awal, sedangkan untuk konsep cerita belum ada. Ketika bab pertama selesai, cerita belum jelas mengarah.

Pak Djoko menanda tangani novel Setan Van Oyot.

Novel ‘Setan Van Oyot‘ adalah sebuah kontroversi, baik cara menulisnya atau ceritanya, tetapi riset latar belakang tetap harus dilakukan seteliti mungkin.

Satupena.id/ArtieA.


‘Demokrasi Kita: Demokrasi Quo Vadis?’

Demokrasi adalah suatu kebebasan. Kebebasan rakyat untuk memilih pemimpin, atau pun menyoal kebebasan lainnya. Kekuasaan rakyat, begitulah setidaknya arti dari kata demokrasi itu sendiri. Bab demokrasi inilah yang memantik diskusi di nDalem Natan, 3 Maret 2019 lalu.

Melalui tema ‘Demokrasi Kita: Demokrasi Quo Vadis’ diskusi ini terlahir dari buku ‘Indonesia Rising: Islam, Democracy and the Rise of Indonesia as a Major Power’ karya Dr. Nasir Tamara. Terbitnya buku ini pun salah satu tujuannya adalah untuk memberikan informasi tentang Islam di negara ini selepas masa reformasi. Sebagai salah satu pembicara dalam diskusi ini, Dr. Nasir Tamara menjelaskan betapa pentingnya demokrasi untuk sebuah negara. Di dunia, sistim politik bermacam-macam bentuknya, namun sistem demokratis yang paling baik untuk kedaulatan sebuah negara.

Dr. Nasir Tamara juga menjelaskan, bahwa untuk saat ini banyak sekali negara-negara di dunia yang menggunakan sistim demokrasi. Salah satu yang menarik adalah gerakan demokrasi di Asia Tenggara, di mana gerakan demokrasi di beberapa negara Asia Tenggara itu tak mengenal agama untuk memberikan kebebasan dalam berdemokrasi. Tak ada sesuatu yang mengekang dalam menjalankan kebebasan dalam memilih pemimpin negara bahkan agama sekalipun. Tentu hal ini adalah bentuk dari demokrasi itu sendiri, lantaran demokrasi adalah kebebasan untuk berpikir, kebebasan untuk memilih, kebebasan untuk mengajar, bahkan kebebasan untuk berkreatifitas. Meski demokrasi di negara ini sendiri, masih seringkali ‘dibajak’ oleh orang-orang kaya menggunakan oligarki.

Lain dengan yang disampaikan Dr. Nasir Tamara, Arahmaiani menggambarkan sebuah demokrasi dalam dimensi yang berbeda. Arahmaiani yang selama ini berprofesi sebagai perupa dan penggiat budaya, melihat demokrasi dari sisi kebudayaan. Meski di awal, Arahmaiani menyinggung bahwa ketidak setaraan gender masih terasa di negeri ini. Seringkali perempuanlah yang tak diuntungkan, demokrasi-demokrasi yang sebenarnya adalah hak bagi semua orang, terkadang tak bisa dinikmati oleh beberapa orang hanya lantaran gender.

Tak hanya membahas masalah ketidak setaraan gender, Arahmaiani juga menyoroti masalah fenomena ekstrim di masyarakat yang semakin menguat menyoal agama dan ideologi. Beberapa waktu belakangan cukup banyak organisasi garis keras yang melakukan tindakan anarkis untuk menghentikan jalannya sebuah upacara adat atau kegiatan kreatifitas yang dirasa tak sejalan dengan agama tertentu. Tentu saja hal ini mencederai demokrasi itu sendiri.

Lebih lanjut, Arahmaiani juga menegaskan jika demokrasi tidak didukung dengan kebebasan kreatifitas, maka demokrasi hanya sebatas basa-basi belaka. Segala macam batasan-batasan yang dilahirkan untuk seniman misalnya, dikhawatirkan akan menjadi sensor diri dan membuat para seniman tak bebas berkreasi. Menyoal hal ini, menurut Arahmaiani sebuah strategi kebudayaan yang adil, kebudayaan yang sinkretis  dibutuhkan untuk melahirkan keseimbangan. Strategi kebudayaan singkretik adalah sesuatu yang patut dibela untuk kepentingan bersama.

Tak hanya dua narasumber yang memberikan gambaran menyoal demokrasi. Minardi, mahasiswa Dr. Nasir Tamara pun ikut berbagi diskusi menyoal demokrasi dalam bermedia sosial. Dalam hal ini, Minardi melihat sikap negara atas penggunaan media sosial oleh terorisme.

Menurut Minardi, saat ini negara masih menekankan pada medianya untuk melakukan pembatasan terhadap masalah yang menyangkut teknologi, seperti halnya dalam masalah terorisme yang terjadi beberapa waktu lalu. Apabila negara terlalu mengintervensi media yang digunakan teroris, hal ini dikhawatirkan akan menyebabkan pembatasan untuk organisasi-organisasi lain yang tidak berkaitan dengan tindakan teror dan semacamnya.

Romo Baskoro yang turut hadir hari itu juga menambahkan sedikit menyoal resistensi yang seharusnya tak hanya dilakukan secara regional, tetapi juga global. Apabila ada masalah di tempat lain, kita semua wajib turut ikut bersuara, karena kita semua sesungguhnya adalah saudara. Demokrasi yang baik akan bisa dijalankan apabila kita semua peduli dengan saudara-saudara kita yang tertimpa masalah menyoal keadilan dan kebebasan berpendapat tanpa mengenal batasan-batasan wilayah dan sebagainya.

satupena.id/ArtieA.

Sumber: satupena.id

Mengenang Nh Dini: Mencermati Keabadian dalam Dimensi yang Berbeda

Karya-karya Nh Dini tetap relevan bagi bangsa Indonesia. Karya-karyanya abadi. Demikian benang merah dari diskusi tentang “Nh Dini: Kehidupan, Serta Relevansinya Bagi Penulis Indonesia” yang diselenggarakan Perhimpunan Penulis Indonesia (SATUPENA) di Ndalem Natan, Yogyakarta, Minggu (3/2).

Pembicara dalam diskusi tersebut adalah Nasir Tamara, Ketua Umum SATUPENA dan Artie Ahmad, penulis novel Sunyi di Dada Sumirah. Kedua pembicara merupakan orang-orang yang mengenal dekat Nh Dini dan beberapa kali melakukan korespondensi langsung maupun tidak langsung dengan Nh Dini.

Nh Dini yang telah menulis 32 buku lebih berhasil mempertahankan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia meskipun dia tinggal lama di luar negeri. Ia juga tidak melupakan ritus-ritus spiritual dalam menulis. Menulis dianggap pekerjaan yang amat penting dan sakral sehingga ia berdoa melakukan puasa dan tirakat ketika hendak memulai karyanya.

Dini membela kepentingan hak-hak perempuan sehingga ada yang mengkategorikan dirinya sebagai penulis feminis Indonesia pertama. Juga rasa melawan ketidakadilan gender dan ekonomi.

Kepergian Nh Dini pada 4 Desember 2018 meninggalkan duka yang mendalam bagi dunia literasi dan sastra Indonesia. Penulis asal Semarang tersebut meninggal pada usia 82 tahun lantaran mengalami kecelakaan di Tol Tembalang. Setelah mobil yang dikendarainya bertabrakan dengan truk. Nh Dini sempat dirawat di RS Elisabeth, tapi nyawanya tidak terselamatkan.

Karya terakhirnya Gunung Ungaran: Lerep di Lerengnya, Banyumanik di Kakinya (2018) berbicara tentang kematian. Bahwa Tuhan sangat Maha Kuasa bisa memindahkan ke alam baka siapa saja, di mana saja, dan dengan cara apa saja. Sepeninggalnya, sumbangan yang telah ia berikan bagi dunia sastra Indonesia menjadi teladan yang sangat berarti, khususnya bagi para penulis muda.

Awal karir menulis Dini dimulai sejak 1951, ketika ia duduk di kelas 2 SMP. Karya pertama dimuat di majalah Kisah berjudul Pendurhaka—yang pernah mendapat sorotan dari kritikus besar HB. Jassin saat itu. Menyusul kemudian kumpulan cerita pendeknya berjudul Dua Dunia terbit pada 1956 ketika ia masih SMA.

Sepuluh karya terbaik Nh Dini yang direkomendasikan meliputi Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975), Namaku Hiroko (1977), Keberangkatan (1977), Sebuah Lorong di Kotaku (1978), Padang Ilalang di Belakang Rumah (1979), Langit dan Bumi Sahabat Kami (1979), Sekayu (1981), Pertemuan Dua Hati (1986), dan Dari Parangakik ke Kampuchea (2003).

Ia juga menerjemahkan buku sastrawan-sastrawan besar dunia. Seperti Sampar karya Albert Camus (1985), 20.000 Mil di Bawah Lautan karya Jules Verne (2004), hingga Tukang Kuda Kapal La Providence karya George Simenon (2009). Juga penulis buku biografi Amir Hamzah dari Negeri Seberang (1981) dan Dharma Seorang Bhikkhu (1997).

Budi Darma pernah memberinya gelar pengarang feminis. Kebanyakan dari novel-novel Dini bercerita tentang perempuan yang menjadi sentra dan tokoh utama karyanya. “Terus menyuarakan kemarahan kepada kaum laki-laki,” kata Budi Darma.

Pada 1980, Dini kembali ke Indonesia guna melakukan operasi penyembuhan bagi kesehatannya. Lalu pada 2002 Dini selama empat tahun pernah tinggal di Graha Wredha Mulya, Sendowo, Yogyakarta. Di sana mengurusi Pondok Baca, sembari merawat tanaman dan lukisan. Biasanya hobi menanam dan menyiram tanaman itu ia dapat sambil berpikir, mengolah, dan menganalisis naskah yang dikerjakannya.

Keaktifannya dalam literasi ditunjukkan pula dengan mendirikan Pondok Baca Nh Dini yang memiliki cabang di berbagai tempat. Usai empat tahun tinggal di Yogyakarta, pada 2006 Nh Dini tinggal di sebuah desa yang tenang di lereng Gunung Ungaran, sekitar 30 km dari Kota Semarang. sur/R-1

Hidup di Berbagai Dunia                                                     

Nh Dini menikah dengan diplomat Prancis, Yves Coffin. Ia tinggal di Prancis kurang lebih 10 tahun hingga 1980. Sempat bekerja sebagai Dame de Compagnie/Governess, semacam perawat bagi orang tua. Di Paris Dini membagi hidupnya menjadi beberapa babak yang berupa fase menuju kematangan.

Di tempat inilah Dini merawat putri pertamanya yang bernama Marie Claire Lintang Coffin. Bagaimana dekatnya Lintang dengan Miu, kucing blasteran ras Siam. Namun, Miu mempunyai kebiasaan buruk, menggigit semua pakaian atau benda yang lembut.

Saat itu Dini tengah mengandung anak kedua, Pierre Louis Padang Coffin. Untuk menghindari risiko Miu menggigit Padang, Dini membangun komunikasi dengan Lintang. “Ketika saya sampai pada tahap mengatakan kepada Lintang bahwa dalam hidup ini seringkali kami tidak dapat mempunyai semuanya, bahwa orang harus memilih … dia memilih adik,” ungkap Dini, ketika itu.

Periode lain yang ia jalani selama di Prancis diberi nama Argenteuil-Paris. Saat itu, Dini menjadi seorang perawat bagi orang tua bernama Pierre Willm yang tinggal lama di daerah Argenteuil. Rumah Willm pernah ditinggali tokoh legenda ekonomi-politik Karl Marx.

Dini menjadi teman yang menyenangkan bagi Willm. Ia menemani Willm dalam banyak hal. Dari menyiapkan makan, menonton televisi, ke bioskop, nonton teater, membacakan buku, berdiskusi, hingga bercanda. Namun, Willm perlahan menjadi lemah karena ia bosan hidup. Anak-anak dan cucu-cucu Willm tidak mempedulikannya.

Hidup bersama Willm membuka mata Dini betapa sulitnya menjadi orang tua di Prancis. Hingga Willm tidak kuat dan akhirnya meninggal. Willm berpesan untuk mengizinkan Dini tinggal di rumahnya, meski anak-anak Willm tidak begitu suka. “Tapi saya menunjukkan kepada anak-anak Willm bahwa saya tahu diri,” ucapnya.

Dari kisah pribadinya itulah, Prancis melahirkan naskah-naskahnya yang lain seperti La Barka dan Argenteuil: Hidup Memisahkan Diri. sur/R-1

Rahasia Sukses Menulis

Dini memberikan rahasia sukses menulisnya. Pertama, menulis itu jangan terburu-buru. “Dalam mengarang saya tidak pernah tergesa-gesa. Saya anggap pekerjaan mengarang adalah tugas yang santai, yang harus dikerjakan dengan senang hati. Kalau saya menulisnya dengan terburu-buru, berarti dengan hati yang kesal, maka dapat dipastikan bahwa si pembaca pun akan merasakannya,” ucapnya.

Kedua, Dini tidak ragu untuk mengambil tema-tema tabu, misalnya seks, perselingkuhan, dan gangguan kepribadian ganda. Baginya itu semua hal yang wajar tentang perjalanan dan persoalan hidup. Menuliskannya seperti berbincang dengan diri sendiri.

Ketiga, Dini menciptakan karya-karyanya dengan membuat “tabungan”. Ia mencatat hal-hal menarik untuk dibuat cerita. Bisa didapat dari aktivitas apa pun, seperti menonton berita. Baginya yang paling mengasyikkan dari proses menulisnya adalah ketika mengumpulkan catatan serta penggalan. Baik berupa adegan fisik, gagasan, alur, dan lain-lain. Bahkan ia sampai tahap bisa melakukan prediksi catatannya itu bisa dijadikan cerpen atau novel. sur/R-1

Dimuat Koran Jakarta, Sabtu 09 Februari 2019/Suradi.

Nh. Dini: Kehidupan, Serta Relevansi Karya-Karyanya Saat ini

SHNet, JAKARTA – Karya-karya Nh. Dini tetap relevan bagi bangsa Indonesia. Nh. Dini adalah penulis besar Indonesia yang dapat dibandingkan dengan penulis dunia seperti Bronte, Virginia Woolf, Francoise Sagan, dan lain-lain. Karya-karyanya akan abadi. Demikian benang merah dari diskusi tentang “Nh. Dini: Kehidupan, Serta Relevansinya Bagi Penulis Indonesia” yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Penulis Indonesia (SATUPENA) di Ndalem Natan, Minggu, 3 Februari 2019.

Pembicara dalam diskusi tersebut adalah Dr. Nasir Tamara, MA, M.Sc selaku Ketua Umum SATUPENA dan Artie Ahmad selaku penulis novel Sunyi di Dada Sumirah. Kedua pembicara merupakan orang-orang yang mengenal dekat dengan Nh. Dini dan beberapa kali melakukan korespondensi langsung maupun tidak langsung dengan Nh. Dini. Seperti Nasir Tamara yang mengenal Nh. Dini semenjak tinggal di Prancis. Serta Artie Ahmad yang belajar menulis dari Nh. Dini di sebuah panti di Banyumanik.

Nh. Dini yang telah menulis 32 buku lebih berhasil mempertahankan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia meskipun dia tinggal lama negeri. Nh. Dini juga tidak melupakan ritus-ritus spiritual dalam menulis. Menulis dianggap pekerjaan yang amat penting dan sakral sehingga ia berdoa melakukan puasa dan tirakat ketika hendak memulai karyanya.

Nh. Dini membela kepentingan hak-hak perempuan sehingga ada yang mengkategorikan dirinya sebagai penulis feminis Indonesia yang pertama. Juga rasa melawan ketidakadilan gender dan ekonomi. Acara ini banyak dihadiri oleh penulis muda dan kritikus sastra. Ini menunjukkan gairah yang ada di kalangan penggemar sastra di Indonesia.

Kepergian Nh. Dini pada 4 Desember 2018 meninggalkan duka yang mendalam bagi dunia literasi dan sastra Indonesia. Penulis asal Semarang tersebut meninggal pada usia 82 tahun lantaran mengalami kecelakaan di Tol Tembalang. Setelah Toyota Avanza yang dikendarainya bertabrakan dengan sebuah truk. Nh. Dini sempat dirawat di Rumah Sakit Elisabeth, tapi karena mengalami gegar otak yang cukup keras, nyawanya tidak terselamatkan.

Karya terakhirnya berjudul Gunung Ungaran: Lerep di Lerengnya, Banyumanik di Kakinya (2018) berbicara tentang kematian. Bahwa Tuhan sangat Maha Kuasa bisa memindahkan ke alam baka siapa saja, di mana saja, dan dengan cara apa saja. Sepeninggalannya, sumbangan yang telah ia berikan bagi dunia sastra Indonesia menjadi teladan yang sangat berarti, khususnya bagi para penulis muda.

Nh. Dini merupakan salah satu penulis yang tekun dan produktif. Selama lebih dari 60 tahun hidupnya dihabiskan untuk menekuni sastra. Awal karir menulis dimulai sejak tahun 1951, ketika ia duduk di kelas II SMP. Karya pertama dimuat di majalah Kisah berjudul Pendurhaka—yang pernah mendapat sorotan dari kritikus besar H.B. Jassin saat itu. Menyusul kemudian kumpulan cerita pendeknya berjudul Dua Dunia terbit tahun 1956 ketika ia masih SMA.

Sepuluh karya terbaik Nh. Dini yang direkomendasikan meliputi: Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975), Namaku Hiroko (1977), Keberangkatan (1977), Sebuah Lorong di Kotaku (1978), Padang Ilalang di Belakang Rumah (1979), Langit dan Bumi Sahabat Kami (1979), Sekayu (1981), Pertemuan Dua Hati (1986), dan Dari Parangakik ke Kampuchea (2003).

Ia juga menerjemahkan buku sastrawan-sastrawan besar dunia. Seperti Sampar karya Albert Camus (1985), 20.000 Mil di Bawah Lautan karya Jules Verne (2004), hingga Tukang Kuda Kapal La Providence karya George Simenon (2009). Juga penulis buku biografi Am

ir Hamzah dari Negeri Seberang (1981) dan Dharma Seorang Bhikkhu (1997).

Budi Darma pernah memberinya gelar pengarang feminis. Kebanyakan dari novel-novel Nh. Dini bercerita tentang perempuan yang menjadi sentra dan tokoh utama setiap karyanya. Nh. Dini menyuarakan ketidakadilan gender, karena hal itu sering merugikan perempuan. “Terus menyuarakan kemarahan kepada kaum laki-laki,” kata Budi Darma.

Nh. Dini dianggap pusat pelopor suara perempuan dari karyanya yang pertama sampai yang terakhir. Sejak saat belum banyak perempuan yang bercita-cita menjadi penulis sampai muncul banyak penulis perempuan. Ia bahkan melampaui zamannya dengan menghadirkan konflik dan adegan yang dianggap tabu oleh masyarakat pada saat itu.

Karya Nh. Dini menggambarkan perempuan sebagai sosok yang tidak hanya merdeka, tapi juga bertindak dan bebas menentukan kehendak. Misal novel monumental Pada Sebuah Kapal menceritakan gadis penari yang dicintai oleh beberapa lelaki. Sri nama gadis itu tak lain seperti cerminan pengalaman hidup Nh. Dini sendiri.

Sri menikah dengan konsul Prancis tapi ia merasa terhimpit oleh perlakuan suaminya. Sri juga merupakan penggambaran dari budaya perempuan Jawa yang sederhana, serta jijik pada hal yang kasar dan penuh kekerasan. Isinya juga tentang pemberontakan atas kungkungan nilai-nilai pernikahan. Butuh waktu 10 tahun lebih untuk menulisnya. Novel tersebut-lah yang mengantar Nh. Dini sukses sebagai novelis kenamaan. Telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing dan dicetak berkali-kali.

Berbagai penghormatan telah ia dapatkan. Seperti penghargaan Prestasi Seumur Hidup (Lifetime Achievement Award) dari Ubud Writers and Readers Festival (2017), Achmad Bakrie Award di Bidang Sastra (2011), Francophonie (2008), Southeast Asian Write Award dari pemerintah Thailand (2003), Bhakti Upapradana Bidang Sastra dari Pemda Jateng (1991), Hadiah Seni untuk Sastra dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1989), dan lain-lain.

Nh. Dini juga diundang untuk memberi kuliah di berbagai universitas, baik di dalam maupun luar negeri. Ia telah pula melanglang buana dari tinggal di Kobe, Jepang (1960-1962), Pnompenh, Kamboja (1963-1965), Manila, Filipina (1969-1971), Detroit, Amerika Serikat (1976), Belanda, dan Prancis.

Tahun 1980, Nh. Dini kembali ke Indonesia guna melakukan operasi penyembuhan bagi kesehatannya. Lalu tahun 2002 Nh. Dini selama empat tahun pernah tinggal di Graha Wredha Mulya, Sendowo, Yogyakarta. Di sana mengurusi Pondok Baca, sembari merawat tanaman dan lukisan. Biasanya hobi menanam dan menyiram tanaman itu ia dapat sambil berpikir, mengolah, dan menganalisis naskah yang dikerjakannya.

Keaktifannya dalam  literasi ditunjukkan pula dengan mendirikan Pondok Baca Nh. Dini yang memiliki cabang di berbagai tempat. Usai empat tahun tinggal di Yogyakarta, tahun 2006 Nh. Dini tinggal di sebuah desa yang tenang di lereng Gunung Ungaran, sekitar 30 km dari kota Semarang.

Hidup di Berbagai Dunia

Nh. Dini menikah dengan diplomat Prancis, Yves Coffin. Ia tinggal di Prancis selama kurang lebih 10 tahun hingga tahun 1980. Sempat bekerja sebagai Dame de Compagnie/Governess semacam perawat bagi orang tua. Di Paris Nh. Dini membagi hidupnya menjadi beberapa babak yang berupa fase menuju kematangan.

Di tempat inilah Nh. Dini merawat putri pertamanya yang bernama Marie Claire Lintang Coffin. Bagaimana dekatnya Lintang dengan Miu, kucing blesteran ras Siam. Hampir kemana-mana Lintang dan Miu bersama. Dari makan, tidur, hingga ke kamar mandi Miu selalu menemaninya. Lintang dan Miu pun sering terlibat dialog. Namun, Miu mempunyai kebiasaan buruk: menggigit semua pakaian atau benda yang lembut dan empuk.

Saat itu Nh. Dini tengah mengandung anaknya yang kedua bernama Pierre Louis Padang Coffin. Untuk menghindari risiko Miu menggigit Padang, akhirnya Nh. Dini membangun komunikasi yang intensif dengan anaknya Lintang menjelaskan dan memberi pengertian, “Ketika saya sampai pada tahap mengatakan kepada lintang bahwa dalam hidup ini seringkali kami tidak dapat mempunyai semuanya, bahwa orang harus memilih … dia memilih adik.”

Kelahiran Padang telah menjadi babak Fontenay-Aux-Roses mengenai pengalamannya memiliki bayi laki-laki. Sebab beberapa hari sebelum Padang lahir (dalam bahasa Jawa “Padang” berarti terang), Nh. Dini merasa mendapatkan “penerangan” mengenai jalan hidup yang akan ia jalani. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana harus bersikap dan berbuat.

Periode lain yang ia jalani selama di Prancis diberi nama Argenteuil-Paris. Di mana saat itu, Nh. Dini menjadi seorang perawat bagi orang tua bernama Tuan Pierre Willm yang tinggal lama di daerah Argenteuil. Rumah Tuan Willm pernah ditinggali tokoh legenda ekonomi-politik Karl Marx.

Nh. Dini menjadi teman yang menyenangkan bagi Tuan Willm. Ia menemani tuannya itu banyak hal yang dia butuhkan. Dari menyiapkan makan, menemani menonton televisi, ke bioskop, nonton teater, membacakan buku, beriskusi, hingga bercanda. Namun, Tuan Willm perlahan menjadi lemah karena ia bosan hidup. Anak-anak dan cucu-cucu Tuan Willm tidak mempedulikannya.

Hidup bersama Tuan Willm membuka mata Nh. Dini betapa sulitnya menjadi orang tua di negeri modern seperti Prancis. Hingga Tuan Willm tidak kuat dan akhirnya meninggal. Tuan Willm berpesan untuk mengizinkan Nh. Dini tinggal di rumahnya, meski anak-anak Tuan Willm tidak begitu suka. Tapi seperti wataknya, “saya menunjukkan kepada anak-anak majikan bahwa saya tahu diri.”

Dari kisah pribadinya itulah, Prancis melahirkan naskah-naskahnya yang lain seperti  La Barka dan Argenteuil: Hidup Memisahkan Diri.

La Barka merupakan rumah temannya di Prancis yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri bernama Mireille Labat di Desa Trans-en-Provence. Nh. Dini lewat novel itu seolah-olah sedang mengajak pembaca berkelana ke daerah pegunungan dan pedesaan di Prancis Selatan.

La Barka berkisah tentang permasalahan-permasalah perempuan dari mendidik dan memelihara anak seorang diri seperti yang dialaminya bersama Padang, perceraian seperti yang ia alami pula dengan Yves Coffin, hidup menjanda dan keraguan terhadap lembaga perkawinan.

Argenteuil merupakan kota kecil di tepian Sungai Seine Prancis. Novel Argenteuil: Hidup Memisahkan Diri bercerita tentang hari-hari Nh. Dini yang memisahkan diri dari anak-anak dan suaminya.

Banyak novelnya yang berkisah tentang Prancis pula. Seperti Cerita Rakyat dari Prancis 1 (1999) dan Cerita Rakyat dari Prancis2 (1999) tentang dongeng-dongeng PrancisJuga La Grande Borne (2007) dan  Dari Fontenay ke Magallianes (2005) yang digarap dengan gaya reportase saat menggambarkan Prancis. Bagaimana seorang manusia bertamu ke negeri orang. Tentang intinya pula seorang istri yang tidak bahagia hingga ia berselingkuh dengan kapten kapal. Juga bagaimana kisah seorang ibu mengurusi anak-anaknya.

Nh. Dini memperlakukan dan melihat Prancis dengan cermat, mengobservasi negara itu dengan tenang, dan menulis latar negara itu dalam karyanya sesuai gayanya sendiri. Kisah-kisahnya natural. Tanpa sadar dalam penghayatan yang merasuk, bisa membuat pembaca menjelajahi Prancis dan ingin tinggal di sana.

Atau lebih luas lagi secara pedantik dapat dikatakan: tak perlulah seseorang berkeliling dunia, dengan membaca buku-buku Nh. Dini, seseorang dapat merasakan Prancis, Kamboja, Jepang, Vietnam, Filipina, dan tentu saja kota-kota di Indonesia.

Rahasia Sukses Menulis

Sikap idealis dari Nh. Dini adalah pro-kebebasan bagi penulis, mengecam  pelarangan buku-buku yang disita secara sepihak, dan sangat menentang pembajakan buku. Sebelum meninggal Nh. Dini menuturkan pada editor penerbit GPU bahwa bukunya Pada Sebuah Kapal telah dibajak oleh sebuah situs daring. Pihak GPU berjanji akan melakukan follow up atas pembajakan itu.

Nh. Dini sebagai penulis juga memiliki gaya sendiri dan tidak selalu tunduk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Penyunting naskah Nh. Dini lewat tulisannya menjelaskan, “Dini memakai kata filem (bukan film), ibukota (bukan ibu kota), kokoh (bukan kukuh), dan moderen (bukan modern).” Kata kakus yang diganti dengan toilet pun ia cukup keberatan. Di salah satu bukunya, kata roti dalam KBBI bisa digunakan dalam tiga varian: kue, kueh, dan kuih. Dia menyebut negeri Prancis juga bukan dengan nama Prancis, tapi Parangakik. Struktur berbahasanya cukup fleksibel.

Nh. Dini memberikan rahasia sukses menulisnya. Pertama, menulis itu jangan kesusu.  Ia mengatakan: “Dalam mengarang saya tidak pernah tergesa-gesa. Saya anggap pekerjaan mengarang adalah tugas yang santai, yang harus dikerjakan dengan senang hati. Kalau saya menulisnya dengan terburu-buru, berarti dengan hati yang kesal, maka dapat dipastikan bahwa si pembaca pun akan merasakannya.”

Pertama, Nh. Dini tidak ragu untuk mengambil tema-tema yang tabu, misal tentang seks, perselingkuhan., dan gangguan kepribadian ganda. Tentang seksualitas ia bercerita sebagai sesuatu yang tidak perlu ditutup-tutupi atau dipermalukan. Bisa jadi memabukkan, menakutkan, membebaskan, dan yang penting merupakan bagian yang integral dari kehidupan. Baginya itu hal yang wajar tentang perjalanan dan persoalan hidup. Menuliskannya seperti berbincang dengan diri sendiri.

Kedua, Nh. Dini menciptakan karya-karyanya dengan membuat “tabungan”. Ia mencatat hal-hal menarik untuk dibuat cerita. Bisa didapat dari aktivitas apa pun, seperti menonton berita. Baginya yang paling mengasyikkan dari proses menulisnya adalah ketika mengumpulkan catatan serta penggalan. Baik berupa adegab fisik, gagasan, alur, dan lain-lain. Bahkan ia sampai tahap bisa melakukan prediksi catatannya itu bisa dijadikan cerpen atau novel.

Pakar sastra dari Universitas Negeri Malang Djoko Saryono mengungkapkan karya-karya Nh. Dini sebagai teks autoetnografis yang bercerita tentang catatan, pikiran, dan ingatan Nh. Dini tentang diri dan dunianya.

“Nh. Dini adalah seorang autoetnografer ulung yang menyatukan kemampuan seniman dan ilmuwan ke dalam dirinya. Ia seorang yang mampu mengingat, mencatat, dan memikirkan pengalaman dirinya sekaligus menarasikan atau menceritakannya secara memikat dalam fiksi karyanya,” jelas Djoko.

Ketiga, Nh. Dini menulis tanpa keraguan dan kepura-puraan. Dia menyatakan sendiri, “tulisan saya mengandung lebih banyak kehidupan nyata daripada fantasi.” Hampir sepanjang karir menulisnya, Nh. Dini menulis dan mencatat banyak hal yang terjadi padanya ke dalam buku (cerita).

Penulis Laksmi Pamuntjak pernah menulis: “Seseorang dapat merasakan, betapa luar biasanya kepercayaan diri Nh. Dini yang membangun hampir seluruh karirnya dari cerita tentang dirinya sendiri. Dia berharap orang lain tahu tentang hidupnya, dan para pembaca memiliki kepercayaan pada dirinya sendiri sebagai manusia.”

Nh. Dini membangun memoarnya pula dengan fakta tentang kehidupan orang lain yang ia olah melalui satu perspektif tunggal dan menyamar sebagai “kebenaran”. Menarik lagi, di antara orang-orang yang ia tulis masih hidup. Mereka memiliki nama, kisah, keluarga, dan masa depan. Cerita tersebut menjadi kebenaran diri yang tak terduga, yang tak dapat diatur, dan membentuk absurditas. Tokoh “Aku” yang tak pernah utuh dan gagal menemukan makna hidup yang inheren. Manusia adalah apa yang ia benci dan cintai.

Keempat, dalam  menangkap dan meramu gagasan tetap tak bisa lepas dari aktivitas membaca. “Kalau mau jadi penulis, ya harus banyak baca, tidak hanya buku sastra, tapi pengetahun yang lain juga,” kata novelis itu.

Kelima, Nh. Dini juga tidak melupakan faktor spiritual dari Yang Maha Kuasa. Ia memiliki kebiasaan khusus dalam menulis buku. Ketika penulisan sebuah karya selesai, Nh. Dini akan melakukan meditasi. Melantunkan doa kepada Tuhan pada pukul 01.00-03.00 pagi.

Pelajaran Hidup

Dalam karya-karyanya terpetik pula beberapa pelajaran hidup penting yang bisa dipelajari dari sosok Nh. Dini. Pertama, seorang perempuan memang mengalami banyak kesulitan, tapi dia tetap mandiri dan berusaha bertahan. Tetap dapat berjuang meski hidupnya serba kekurangan. Nh. Dini juga mengajarkan tentang puasa untuk mengetahui sampai di mana dapat mengatur kekuatan diri. Bukan karena agama atau keinginan masuk surga. Dengan berpuasa seseorang dapat menahan keinginan.

Kedua, pernikahan adalah proses panjang mengenali diri sendiri, bukan sekedar tentang kebahagiaan. Orang yang tangguh ialah orang yang memperjuangkan komitmennya. Namun, apabila belum berjodoh dengan seseorang, jangan merasa menjadi orang paling sial di dunia. Apa yang telah dilalui patut disyukuri dan lewati dengan bahagia.

Ketiga, bagi Nh. Dini kesedihan bukan untuk dipampangkan pada semua orang. Kesedihan baginya adalah sesuatu yang harus diimpit-diindit, diselinapkan di balik lapisan penutup. Sebab kesedihan ialah hal yang sangat pribadi sebagaimana rahasia. Harus disembunyikan dari pandang orang lain.

Alih-alih demikian, Nh. Dini menarik perhatian pembaca melalui curahan kesedihan yang panjang tentang hal-hal yang paling pribadi. Sebagai kompensasi terhadap segala kesedihan yang dia tutup rapat. Dengan menjaga semua itu, karakter khas dari karya-karyanya adalah jujur dan orisinal.

Sebagai seorang ibu, didikan perempuan yang memiliki nama asli Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin tersebut juga merupakan sosok yang berhasil. Putranya Padang atau yang lebih dikenal dengan nama Pierre Coffin juga menjadi sutradara film-film Hollywood terkenal: Despicable Me SeriesMinions, Brad & Gary, Gary’s Day, dan teranyar Flanimals.

Meski memiliki anak, Nh. Dini tidak mau merepotkan anak-anaknya. Ia lebih memilih tinggal di sebuah panti wreda di daerah Banyumanik, Semarang. Penyuka nasi goreng itu tinggal di sana atas kemauan sendiri. Berbeda dengan orang tua lainnya yang tinggal di panti karena dititipkan, sang novelis justru menitipkan dirinya sendiri. Alasannya, ia tak mau merepotkan orang lain.

Nh. Dini juga masih sangat mandiri menghasilkan uang dari mengisi acara seminar hingga membimbing skripsi, usia senjanya juga tak menghalangainya sendirian bepergian jauh naik-turun pesawat. Pada tahun 1991 saat Nh. Dini mengisi sebuah diskusi sastra di Australia, seperti yang telah ia tuturkan pula dalam Pondok Baca Kembali ke Semarang (2011):

“Aku menulis tanpa dasar ‘isme-isme’ apa pun. Yang menjadi arah kepengaranganku adalah keadilan. Dengan sendirinya di dalamnya tercakup kemanusiaan.” (Satu Pena)

Dimuat di Sinar Harapan, 04 Februari 2019.

Mengenang NH Dini dan Kontribusi Besarnya Terhadap Bahasa Indonesia

JawaPos.com – Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin atau yang lebih dikenal dengan NH Dini merupakan seorang sastrawan yang memiliki kontribusi cukup besar bagi Bangsa Indonesia. Baik itu dari sisi budayanya, maupun berupa hasil karyanya yang juga menjadi rujukan bagi tata bahasa Indonesia.

Sedikit kontribusinya terhadap bangsa itu terungkap dalam sebuah forum diskusi di Ndalem Natan, Kotagede, Kota Jogjakarta, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) pada Minggu (3/2) siang. “Banyak sekali di kamus besar Bahasa Indonesia yang merujuk, mencontoh karya sastra Mbak NH Dini. Kontribusinya terhadap Bahasa Indonesia sangat besar,” kata Nasir Tamara, salah seorang pembicara dalam acara itu.

Pria yang juga merupakan ketua umum dari Persatuan Penulis Indonesia (Satupena) itu mengungkapkan, NH Dini mempunyai hubungan yang baik dengan penyunting bukunya. “Ibu Dini sangat berprinsip. Kalau dalam menulis diacak-acak sembarangan, diganti kata-katanya harus dinegosiasikan terlebih dahulu,” katanya.

Nh. Dini semasa hidup, disebutkan juga mencintai seni tari. Jenis gaya Jogja, Solo, maupun Bali pernah dipelajarinya. (Ridho Hidayat/JawaPos.com)

NH Dini semasa hidup, disebutnya juga mencintai seni tari. Jenis tari gaya Jogja, Solo, maupun Bali pernah dipelajarinya. “Beliau pernah menari di depan Presiden Soekarno di Istana. Tari gaya Jogja, Solo, Bali. Dia belajar tari Bali sangat senang, sangat bangga,” katanya.

Bakatnya menari inipun, lanjutnya, sering diundang di beberapa tempat untuk tampil. Tak terkecuali ketika di luar negeri. “Dia yang mengenalkan keindahan seni tari di luar negeri. Sangat berjasa (untuk Indonesia),” ucapnya.

NH Dini lahir di Semarang, Jawa Tengah pada 29 Februari 1939 silam. Ia kemudian meninggal pada 4 Desember 2018 di Semarang akibat kecelakaan. Selama 60 tahun NH Dini menekuni profesi sebagai seorang penulis. Karya-karya sastranya pun sudah cukup banyak, yakni Pada Sebuah Kapal, La Barka, Pertemuan Dua Hati, Hati yang Damai, dan masih banyak lagi.

“NH Dini ini satu-satunya orang yang berani menulis kisah fiksi berdasar kisah hidupnya sendiri. Penulis lain nggak berani, kadang namanya diganti,” kata Nasir.

Nasir juga mengungkapkan, perkenalan pertamanya dengan NH Dini sekitar 1976 silam. Ketika ia masih menjalani studi di Perancis, diundang untuk makan. “Saya diundang bersama beberapa profesor,” katanya.

NH Dini saat itu memang sedang menetap bersama keluarganya. Ia menikah dengan seorang diplomat Perancis, dan tinggal di sebuah apartemen sederhana yang disediakan oleh pemerintah. “Beliau sering mengundang para mahasiswa untuk makan siang. Kebaikan hati seorang yang punya rasa keibuan tinggi terhadap mahasiswa dan pelajar (asal Indonesia),” ujarnya.

Sosok NH Dini dari kaca matanya, juga memiliki sikap yang pandai bergaul. Almarhumah bisa membedakan ketika harus menulis, memerlukan waktu untuk sendiri maupun saat bergaul bertemu dengan banyak orang. “Beliau merupakan satu-satunya 60 tahun konsisten menjadi penulis,” pungkasnya.

Editor           : Sari Hardiyanto
Reporter      : Ridho Hidayat

Dimuat di Jawa Pos.com, 03 Februari 2019/Ridho Hidayat.

Nasir Tamara, Satupena, dan Kerja Peradaban

Kotagede. Jantung peradaban Mataram Islam yang sempat mewarnai sejarah perjalanan bangsa pasca Kerajaan Demak. Berbeda dengan Demak yang bercorak kebaharian, tradisi kekuasaan Mataram bercorak agraris (one village one product) dengan penguatan sisi feodalisme di satu sisi, dan pendalaman khazanah pustaka atau literasi di sisi lain. Sisa-sisa kejayaannya masih bisa ditemukan. Pola-pola kekuasaannya masih diperbincangkan sampai saat ini dan menjadi rujukan saat memperbincangkan Indonesia apalagi era kepemimpinan Suharto. Mahakarya Mataram bisa disaksikan dalam beragam kitab, babad dan situs peninggalan sejarah.

Pada titik kisar itu hadir nDalem Natan. Adalah Dr. Nasir Tamara yang susah payah mencoba membangkitkan kesadaran peradaban itu. Lama dikenal sebagai jurnalis yang bernyali, penulis yang berani, praktisi media terkemuka, dan berbagai peran sosial intelektual, Nasir tak saja mampu melestarikan rumah orang Kalang, kelas menengah yang perannya tak bisa dilepaskan dari kesejarahan Mataram, tetapi juga mampu menjadikan nDalem Natan sebagai pintu masuk peradaban. Kolaborasi Jawa, Timur Tengah, Cina, Eropa (art deco) menghiasi rumah yang megah ini.

Ndalem Natan bukan saja menjadi oase di tengah dinamika kota Yogyakarta yang kian modern, tetapi juga Museum Borjuasi, sebuah kelas yang sementara kalangan hanya mengetahui sebagai bagian sejarah Eropa, yang cukup menjanjikan. Beebagai karya lukis, peta, keramik, dan seni bercita rasa tinggi ada disini. Beragam even seni, sastra dan budaya digelar disini termasuk sebagai pusat kegiatan Persatuan Penulis Indonesia (Satupena) yang dia pimpin. Pelan tapi pasti Natan menjadi rumah budaya dimana beragam kalangan bisa saling bertegur sapa.

Setahun Satupena

Tak mudah mengendalikan organisasi penulis se-Indonesia dari berbagai genre. Apalagi konon penulis adalah kerja individual yang asyik dalam kesunyian. Momentum datang saat dunia perbukuan dihantam beragam permasalahan, mulai tata kelola perbukuan sampai pajak. Sebagai Ketua Umum Satupena Nasir Tamara telah menempatkan diri tidak saja sebagai katalisastor tetapi juga fasilitator. Dua kali tim LIPI datang di Natan untuk bisa bertemu dengan para penulis Satupena. Seluruh hal ihwal perbukuan telah disampaikan. Keluh kesah penulis dalam berhadapan dengan pasar pun telah dikemukakan. Pun diskusi dan pertemuan dengan Kementerian Keuangan di Jakarta dan aktif mensuport program kerja Bekraf.

Natan juga menjadi kawah candradikuka bagi para penulis muda yang mengikuti workshop atau pelatihan hingga mereka membentuk komunitas sendiri. Secara aktif mereka mengikuti program peningkatan kapasitas dan kompetensi untuk mengasah kemampuan penulis.

Dari sisi kelembagaan, Satupena telah secara resmi tercatat di notaris. Artinya, eksistensi dan perannya sudah diakui sehingga sangat dinantikan masyarakat. Satupena juga aktif membuka jaringan kerja dengan kementerian, institusi kepurbakalaan, dan perguruan tinggi. Bagi masyarakat Yogyakarta nama Nasir Tamara menjadi tokoh budaya yang akrab didengar bahkan memperoleh penghargaan dari pemerintah setempat. Kehadiran nDalem Natan bisa jadi merupakan berkah bagi masyarakat Yogyakarta. Penampilan Nasir Tamara yang lugas dan open minded pun mampu mendinamisir iklim seni, sastra, dan budaya.

Bertepatan dengan momen ulang tahunnya, 4 Januari 2018 digelar ramah tamah kebudayaan di nDalem Natan. Shinta dari elemen pelestarian kota pusaka membuka pintu kerja sama dengan Satupena dalam beragam program, mulai penulisan sejarah batik, desa wisata, sampai penyadaran tentang pentingnya membukukan beragam kearifan lokal agar dipahami dan dicintai generasi muda. Salah satu usulan yang mengemuka adalah perlunya diselenggarakan sebuah festival penulis bertepatan dengan rakernas yang mengiringi setahun usia Satupena. Tentu perlu dipikirkan betul positioning sebuah festival penulis mengingat sudah ada even sejenis di Borobudur dan Bali, agar memiliki daya dobrak dan karya nyata di masyarakat.

Harapan dan Tantangan

Kita percaya Ketum Satupena dengan kapasitas dan jaringan kerja yang dimilikinya mampu memfasilitasi sebuah even penulis lintas genre yang tidak saja berbobot tetapi juga berdaya jelajah peradaban yang tinggi. Kolaborasi itu sebuah keniscayaan manakala kita bicara zaman global. Peluang terbuka luas mengingat kebutuhan buku bagi masyarakat (pedesaan) masih jauh dari sempurna. Di beberapa taman bacaan masyarakat (TBM) di DIY masih amat minim koleksi. Di sisi lain, kearifan lokal, khazanah sejarah, dan kekayaan sosio ekologis teramat minim ditulis. Saat kota bergerak sangat cepat, kita tahu apa yang akan terjadi. Desa-desa tergerus modernitas, dan anak-anak tercabut akar kepribadiannya.

Satupena amat menyadari kondisi itu. Selain para anggotanya terdiri atas penulis kampiun dengan karya-karya bermutu, Ketua Umumnya merupakan sosok tangguh dan berkompeten. Dengan jarak yang berjauhan mungkin menjadi hambatan dalam bergerak, tetapi selama ada komitmen dan kesadaran organisasi, rasanya tak ada yang tak bisa dikerjakan oleh Satupena. Hidup itu soal pilihan, dan kita memilih bergabung dengan Satupena untuk melanjutkan kerja peradaban seperti yang dengan mengagumkan telah diteladankan para pendiri bangsa. Generasi pertama kaum pergerakan kita adalah kaum penulis yang tidak saja visioner tetapi juga para penggiat peradaban andal dan membumi dalam laku perjuangan. Saat kondisi bangsa tengah penuh gejolak akibat tsunami sosial dan benturan-benturan kepentingan sesaat, Satupena ditantang untuk memberikan sumbangsihnya dalam ikut mengembalikan arah perjuangan sesuai jatidiri dan kepribadian. Disitulah, kelak, Satupena akan dilihat kiprah dan dedikasinya. Verba vollant, schripta manen. Yang diucap akan hilang ditelan angin, yang ditulis akan abadi.

Semoga.

Salam Satupena!

Oleh Wahjudi Djaja. Sumber Serumpun Sastra

Nasir Tamara: Menulis Merupakan Pekerjaan Berat

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Penulis Nasir Tamara mengatakan bahwa menulis merupakan sebuah pekerjaan yang berat. “Menulis itu membutuhkan kerja keras, karena kita harus membuat target-target untuk menulis, sehari berapa karakter itu harus ditarget,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam workshop tentang penulisan seni dan media di Ndalem Natan Kotagede, Yogyakarta, Rabu (22/3).

Workshop tersebut menghadirkan beberapa penulis seni di Indonesia antara lain kurator seni Mieke Susanto dan guru besar Filsafat UI Toeti Heraty Noerhadi. Hadir juga pelukis ternama Yogyakarta Kartika Affandi.

Workshop diikuti puluhan mahasiswa di Yogyakarta dan para penggiat seni di Yogyakarta. Workshop tersebut merupakan rangkaian kegiatan dalam peluncuran majalah MITRA Jurnal Budaya dan Filsafat. Majalah tersebut diterbitkan oleh Cemara F Galeri-Museum. Majalah triwulan ini diprakarsai oleh Toeti Heraty Noerhadi.

Menurut Nasir, tanpa kerja keras maka tulisan tidak akan selesai. Nasir bercerita tentang bukunya yang berjudul Revolusi Iran. Karena buku tersebut Nasir sendiri berhasil membeli rumah pertamanya melalui royalti buku itu. Karenanya, Nasir mengimbau agar mahasiswa tak lelah menulis.

Mieke Susanto mengatakan, menulis itu sama dengan berkarya dan menciptakan sesuatu mitos baru. Menulis adalah kegiatan mengeluarkan apa yang ada di dalam pikiran atas semua pengalaman yang diperoleh. “Tulisan seni itu menjembatani bagaimana pengalaman terbuka atas tontonan kita. Tulisan itu membuka pengalaman orang lain atas sebuah seni, jadi bukan hitam putih,” katanya. Ia menambahkan, diksi atau pilihan kata akan menentukan kelenturan sebuah tulisan.

Toeti Heraty Noerhadi dalam kesempatan itu mengatakan, kumpulan sajak yang diterbitkan menjadi buku pertama miliknya merupakan kumpulan catatan-catatan kecil yang dia simpan. “Kumpulan catatan kecil ini kemudian saya berikan ke HB Yasin, kemudian ada yang menerbitkan menjadi kumpulan sajak,” ujarnya.

Dari situlah, kata dia, dirinya kemudian dikenal sebagai salah satu penyair di Indonesia. Menurut Toeti, penyair itu harus terus menulis. Jika tidak maka penyair tersebut akan dikatakan sebagai mantan penyair.

Oleh Yulianingsih/ Red: Fernan Rahadi. Sumber Republika, 22 Maret 2017

nDalem Natan in NOW! Jakarta / Life in The Capital

Kotagede is an old city that has many treasures, including the tombs of the founding kings of the Mataram kingdom. Among Kotagede’s many riches is the Dalem Natan Royal Heritage building, a Javanese-style house.

Kotagede was the capital of the Mataram kingdom, every inch of its land rich in history, extending from the Hindu Mataram to the Islamic Mataram era. NOW!JAKARTA

Kotagede is at the centre of an upmarket suburb and the hub of Yogyakarta’s centre of silver jewellery and handicrafts. Located in the southeastern part of the city of Yogyakarta, Kotagede is romantic in its own right. Most interesting and historical sites can be visited on foot and travellers can walk down small alleys, meeting fellow pedestrians and taking in the local culture along the way.

Kotagede was the capital of the Mataram kingdom, every inch of its land rich in history, extending from the Hindu Mataram to the Islamic Mataram era. The region is home to ancient historical buildings as well as cultural heritage sites. Every corner is occupied by old buildings which are a feast for the eyes. One of the cultural heritages is nDalem Natan Royal Heritage where visitors can see the beauty of its art nouveau and artdeco structures.

Formerly named as nDalem Prayadranan, nDalem Natan was built in 1857 as a private mansion. The earthquake in May 2006 destroyed the house and having been abandoned for several years, it was finally sold by the fourth generation of the owner’s family. Many people have expressed regret over this. Fortunately, this cultural heritage was saved, and returned to its former glory, by the new owner, Nasir Tamara. He painstakingly recovered the material left over from the old building, however small they were. His desire to complete the house to the palace’s standard and the effort to save the nobility of the cultural work continues until today.

Traditional Javanese house.

After the building was renovated and rebuilt according to the original building’s shape, it was converted into a guesthouse and developed as an art space named Natan Art Space (NAS) and the resident for artists.

The character of a house is closely related to the life of the owner. Like nDalem Natan, sources say that the previous owner who was a wealthy merchant in the field of transportation also owned a bank during the Mataram kingdom and was also close to the kingdom and had authorisation to build a large house.

From the outside, the building doesn’t look like a guest house even a house in general. This luxury building is supported by art nouveau style, stained glass with floral style, curved lines found on the door and pineapple motifs on pillars made of teak wood. Various furniture also carries the same style, such as tables and cabinets, and window trellis made by solid iron, ceilings made of steel and floral motif porcelain throughout.

Earthy and warm atmosphere in Kotagede.

Like typical old Javanese-style houses, nDalem Natan Royal Heritage is divided into several parts, which are Pendopo or front open terrace which functioned as a space in which to conduct formal activities such as meetings, ceremonies and art performances. Even though it’s located at the front, Pendopo is not the reception room. Visitors can enter the home from the side entrance. A row of curved art nouveau-style teak wood doors decorate the left and right side of this pendapa.

On the west side of the Pendopo is a place for Batik gallery and craft shop which offers indigo dye batik, classic batik and traditional crafts. Periodically it also open for batik and shibori workshops.

Pringgitan, a transition space between the pavilion and the palace. It serves as a space to receive guests and relax in the afternoon. In ancient times it was usually used as a puppet shows, arts and public activities.

Sentong tengah, in the cluster of traditional Javanese houses, the location of sentong tengah is the deepest, farthest from the outside. Sentong tengah is a space that is the centre of the house. This space is often a “showroom” for the family of the residents of the house. Actually, sentong tengah is a sacred space which often the place for conducting family ceremonies or rituals. This palce is also a storage room for the family heirlooms.

Sentong kiwa can be used as family bedroom or rice storage and farm equipment. While sentong tengen has the same function as the sentong kiwa.

The house also has gandhok, an additional building in the left and right sides of the house. At the bacak part there are some spaces for kitchen and making batik. Here, too, are a series of aesthetic and meaningful trellises in windows and collections of artworks, priceless views at this part.

Dalem Natan features 12 spacious guestrooms with three types; Superior, Deluxe and Family.

Each room in this house is filled with antique collections ranging from classic Javanese room interiors, ancient beds and tables and chairs. And most the furniture features artistic carvings.

The owner’s business life is clearly engraved in various angles. On the trellis there are icons of transportation such as a compass, anchors, wheels and boats describing the philosophy of life. The life depicted in a boat in the middle of an endless ocean, the wheel of life that always leads to “the creator” are some meanings that can be seen from the window trellis.

Evidence of the Mataram community can also be seen in the stained glass in representations of present-day Mount Merapi and the South Sea. Scars on the door are the visual representation, too. The artistic lines with the tip of the arrow refers to the name of Allah, in the North and South as the representation of Mount Merapi and the South Sea, and the four elements of life; fire, water, soil, and water, which also depict the mix of Sufi Islamic culture and Hindu Mataram culture.

As a guesthouse, nDalem Natan features 12 spacious guestrooms with three types; Superior, Deluxe and Family equipped by air-conditioned, LED TV, good amenities, tea and coffee making facilities and wireless internet access. This place is also suitable for gatherings, weddings, office functions, luncheons and dinners. Entertainment during the events can be arranged.

Dalem Natan is a historic heritage that continues to embrace today’s life. The house functions as a public space as part of efforts to restore and spread awareness of the need to preserve heritage.

 

link : http://nowjakarta.co.id/heritage-culture-and-history-in-kotagede

Welcome to nDalem Natan Royal Heritage

 

Jl. Mondorakan No. 5, Kotagede, Yogyakarta

Contact     : +622742840240 / +62811140624 / +6285643674329

Email          : manager@ndalemnatan.com / ndalemnatanmanager@gmail.com

NATAN MANSION

This mansion is a very beautiful Javanese merchant house located in Kotagede, a historic area where Mataram dynasty and Yogyakarta begun. Built by the richest Jogja merchant during his time at the turn of the previous century, the architecture of the house is a mix of art nouveau and art deco style, implementing traditional Javanese house layout and philosophy as well as using Islamic ornaments.

Severely damaged by earthquake in 2006, the mansion has been carefully restored since 2012, using original materials and old teaks. Now the mansion is fully revived, ready to welcome its visitors.

The beautiful spacious mansion is suitable for gatherings, weddings, office functions, luncheons, and dinners. Entertainments or performances during the events can be arranged. Previously the mansion had been used for weddings of more than 1000 couples.

Our pendopo (front open terrace) and public areas of the house often host art and music performances (traditional and contemporary), book launchings, group discussions and seminars. nDalem Natan has become a notable cultural hub in the south of Yogyakarta.

Our Rooms 

          

All rooms in nDalem Natan Royal Heritage are elegantly furnished in original antiques or vintage furnitures. The rooms are spacious, with an en-suite bathroom, and each room is unique. The rooms are air-conditioned, fitted with a flat screen cable TV, tea and coffee making facilities, and free wi-fi. Amenities and hot shower are provided in the private bathroom. Guests will be given personalized service in the best Javanese hospitality tradition.

 

Our Cafe & Natan Art Space

Natan Art Space (NAS) is a place to meet friends, relax and enjoy any kind of arts. You may feast your eyes with paintings by various artists in the gallery or feast your palate with culinary arts by our chef in the cafe. From time to time, NAS holds art exhibitions by notable artists.

The cafe serves delicious Indonesian coffee selections, beverages and selections of Indonesian and European dishes.

          

Our Galleries

Batik gallery, art, and craft shop is located on the west side of the pendopo. The shop provides indigo/natural dye batik, classic batik, and traditional crafts. Periodically we also open classes for batik and shibori making.

         

 Art and Craft Workshop

Bertepatan dengan bulan seni dan penyelenggaraan ArtJog X, Natan Art Space kembali mengadakan serangkaian workshop seperti membatik dan membuat jumputan & shibori bersama Yoel Fenin Lambert, Ita Budhi & Sulist Maeswara, membuat keramik bersama Lelyana Kurniawati, melukis kaca bersama Rina Kurniyati, melukis dengan pelukis Soni Irawan & Yustoni Volunteero dan workshop penulisan bersama Dr. Nasir Tamara.